Ke(yakin)an itu Realitas

Posted: December 17, 2011 in article

Jika kita percaya kepada fitrah suci individu lain, dengan pikiran tenang dan tanpa keraguan, keengganan dan keberatan, kita percaya kepada hidupnya, maka itu berarti kita mempunyai “keyakinan” terhadap orang itu. Jika suatu hal telah dianggap terbukti secara pasti, ini berarti kita “yakin” terhadap hal itu.

Jika secara tegas percaya kepada suatu sistem mental – dalam istilah bahasa Eropa disebut “ideologis”, lebih kita kenal dengan “doktrin dan prinsip” dan kita merasakan suatu dorongan secara tenang hingga kita tertarik untuk menjadikannya sebagai infrastruktur hidup, itu berarti kita “yakin” akan suatu doktrin. Melihat beberapa contoh di atas, arti “keyakinan” adalah “kepercayaan sepenuh hati kepada seorang individu atau suatu prinsip”.

Mengambil contoh ketika laki-laki memberikan Mawar Merah kepada sang pacar, lalu ia menerima Mawar tersebut. Perempuan itu, terbukti secara pasti menerima cintanya. Dan laki-laki itu pun meyakini Mawar itu sebagai sebuah ungkapan rasa cintanya kepada sang dambaan hati. Namun, keyakinan ini belum mampu menjadi doktrin atau prinsip hidup bagi kedua insan yang sedang memuja cinta. Hal ini disebabkan proses realitas yang sedang dijalani timbul dari sebuah perasaan dalam jangka waktu yang pendek, bukan atas hasil dari proses analisis dan hasil pemikiran jangka panjang.
Lain halnya bagi seorang anak, pertambahan usia membawa keyakinan masa kanak-kanaknya ke ambang keraguan. Hal ini disebabkan tindakan-tindakan yang dilakukannya atas dasar meniru atau karena ajakan orang lain yang dipercayainya seperti orang tua, saudara, guru, dan lain-lain. Andaikata, seorang anak dipisahkan dari keluarganya. Ia hanya tinggal sendiri di tengah kemajuan industri dan teknologi, maka keyakinannya akan tergantikan oleh keraguan.

Keyakinan seorang anak masih berasal dari dorongan lingkungan sepenuhnya, belum berorientasi pada ilmu pengetahuan – keyakinan yang tumbuh melalui proses pemikiran dan analisis. Pada orang dewasa, orientasi keyakinan berlanjut dari tahap masa kanak-kanak hingga ke tahun berikutnya. Orientasi keyakinan itu berasal dari ilmu pengetahuan. Derajat kemungkinan bisa atau tidaknya seseorang mencapai keyakinan sadar, keyakinan yang tumbuh melalui proses pemikiran dan analisis tergantung pada masing-masing individu.

Banyak orang pada masa dewasa mempunyai keraguan yang sangat sederhana, tetapi hal ini tidak berpengaruh pada hal-hal yang sudah mereka yakini sejak masa kanak-kanak. Keyakinan pada orang dewasa mestinya berorientasi pada proses pemikiran dari setiap kejadian yang terjadi. Namun, bagi sebagian orang keyakinannya masih tumbuh dari dorongan orang-orang yang ada di sekitarnya, sebuah proses keyakinan yang terjadi pada masa kanak-kanak.

Itulah keyakinan yang kian berkembang dewasa ini, tak terkecuali di kalangan kaum terpelajar (baca:mahasiswa). Ketika mereka dihadapkan pada sebuah pertanyaan: “Apa yang akan Anda lakukan setelah kuliah?” Tak ada orientasi dari sebuah keyakinan yang melandasi tujuan yang diharapkan. Begitu juga halnya banyak orang terpelajar yang telah dipandang sebagai tokoh yang jika dihadapkan pada sikap memilih ideologi atau doktrin, atau strategi politik, mereka tidak mampu. Hal ini disebabkan mereka tidak memiliki pengetahuan politik dan tidak mampu menganalisis sesuai dengan status mereka. Hanya mengikuti ke mana saja arah perjalanan lingkungan. Alhasil, orang-orang cerdas menjadi perangkap ‘tikus’ yang tidak memiliki keyakinan sadar akan tujuan hidup hakiki.

Maka, dari zaman dahulu hingga sekarang tidak berlaku sikap yang mengatakan: “Saya terlahir dari seorang keluarga petani.” Seolah-olah ia berserah diri akan keyakinan yang telah ia dapatkan sejak kecil. Begitu juga halnya ketika seseorang mengatakan: “Saya terlahir karena orang tua saya Islam. Maka agama saya Islam.” Pernyataan ini pun tak berlaku. Itu sama halnya ia hanya menerima keadaan tanpa berusaha untuk mencari tahu apa yang akan ia jalani. Setiap individu dituntut untuk berpikir, mempelajari dan merenungkan serta mengamati secara objektif disertai penelitian dan analisis yang logis dari setiap keadaan yang terjadi pada dirinya.

Keyakinan itu realitas yang harus didasarkan atas pengetahuan dan peninjauan terus-menerus. Selain menganggap bahwa penelitian ilmiah dan cara berpikir yang bebas dalam memandang alam tidaklah bertentangan dengan keyakinan. Bagi seorang ‘pemuja cinta’ dan ‘manusia cerdas’, apa pun pikiran yang disodorkan nenek moyang dan lingkungannya, dan tanpa memandang paham apa yang diperolehnya semasa kecil, diharuskan menggunakan kemampuan pengertiannya yang lengkap untuk mempelajari dirinya sendiri dan dunia di sekelilingnya, dan merenung hingga mencapai suatu kesimpulan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s