Pemuda Indonesia Butuh Pelatihan Kepemimpinan

Posted: August 22, 2011 in report

Seorang pemimpin tak terlahir begitu saja. Untuk melahirkan calon-calon pemimpin masa depan yang lebih baik, dibutuhkan pelatihan. Inilah yang menjadi landasan bagi sebuah yayasan swasta Van Deventer-Maas Stichting mengadakan 9th Leadership Conference di Sumatera utara. Namun, masih terasa sedikit pelatihan kepemimpinan yang diadakan guna melahirkan calon pemimpin Indonesia masa depan.

Untuk menjadi seorang pemimpin bukanlah hal yang mudah. Namun, itu bukan berarti tidak ada peluang seseorang untuk menjadi seorang pemimpin. Berbicara tentang kepemimpinan, bukan berarti bicara tentang kekuasaan. Setiap individu memiliki potensi untuk menjadi seorang pemimpin. Potensi ini yang mesti digali dan difasilitasi untuk dapat tumbuh dan berkembang secara optimal sehingga kelak dewasa mereka akan menjadi sumber daya manusia yang unggul dan tangguh. Maka dibutuhkan pelatihan, konferensi dan kegiatan sejenisnya yang berhubungan dengan tema kepemimpinan. Di negara kita ini, masih agak jarang terdengar kegiatan atau pelatihan kepemimpinan diperuntukkan bagi kawula muda.
Pemuda mestinya mendapatkan banyak kesempatan untuk mengikuti pelatihan kepemimpinan. Jiwa kepemimpinan mesti dicari, dilatih dan dididik. Adanya sebuah gerakan dalam melahirkan calon pemimpin-pemimpin muda menjadi sebuah solusi guna menjawab: “Siapa pemimpin Indonesia lima atau delapan tahun ke depan?.” Calon-calon pemimpin muda masa depan harus memiliki kesempatan yang tidak hanya membangun kemampuan pribadi, tetapi juga dilatih kemampuan dalam memimpin, bersikap, memiliki integritas dan rendah hati.

Atas dasar inilah salah satu yayasan swasta yang berasal dari negara Kincir Angin, Van Deventer Maas Stichting (VDMS) mengadakan acara ”9th Leadership Conference” di Sibolangit Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara (10-16/7). Pada konferensi ini, VDMS yang juga sebagai yayasan swasta yang mempunyai misi untuk mendukung pendidikan bangsa Indonesia, memberikan pelatihan kepada mahasiswa sebagai calon pemimpin masa depan untuk mengetahui makna dan sikap yang mesti dipunyai oleh seorang pemimpin.

Konferensi Kepemimpinan ke-9 tahun 2011 yang diadakan di Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara melatih mahasiswa sebagai kader pemimpin masa depan untuk mencari solusi terhadap permasalahan yang terjadi di tengah-tengah masyarakat. Adapun 13 perwakilan universitas yang mengikuti konferensi kepemimpinan adalah Universitas Bung Hatta, Universitas Andalas, Universitas Negeri Padang, Institut Teknologi Bandung, Universitas Padjajaran, Institut Pertanian Bogor, Akademi Kebidanan Al Fathonah, Universitas Negeri Semarang, Univesitas Kristen Satya Wacana, Universitas Lambung Mangkurat, Universitas Gajah Mada, Universitas Wijaya Kusuma Surabaya.

Kegiatan yang berlangsung selama tujuh hari ini membentuk mahasiswa sebagai anggota konferensi untuk mampu bekerja sama dalam kelompok. Setiap kelompok ditugaskan untuk terjun langsung ke beberapa kecamatan di Deli Serdang untuk melihat aktivitas komunitas berbasis masyarakat yang berkelanjutan. Setiap anggota kelompok harus melakukan wawancara dengan anggota komunitas berbasis masyarakat dan mencari tahu permasalahan yang sedang dihadapi. Adanya wawancara dalam aktivitas ini mengajarkan kepada mahasiswa sebagai calon pemimpin untuk lebih jeli dalam melihat permasalahan yang terjadi di masyarakat dan mencari solusi terhadap permasalahan itu.
Aktivitas di atas menjadi sebuah gambaran sosok kepemimpinan yang diharapkan oleh bangsa Indonesia. Ketika seorang pemimpin meluangkan waktunya untuk terjun langsung ke tengah-tengah masyarakat, maka ia akan tahu permasalahan yang tengah dihadapi oleh masyarakat. Akankah kita yakin kalau masalah korupsi akan terentaskan sementara pemimpin sendiri tidak melihat bagaimana masalah ini mengakar mulai dari tingkat yang paling rendah. Belumlah dirasakan cukup ketika seorang pemimpin berteriak dengan lantangnya, tanpa ada turun tangan secara langsung untuk bergerak.

Di samping itu, konferensi kepemimpinan VDMS yang diikuti oleh perwakilan dari 13 perguruan tinggi se-Indonesia ini juga mengajarkan kepada 17 peserta sebagai calon pemimpin masa depan untuk berpikir secara kreatif dan inovatif. Hal ini ditunjukkan dengan beberapa aktivitas yang dilakukan dalam kelompok untuk melakukan penggalangan dana. Setiap kelompok tak dibekali dengan modal apapun. Bagi kelompok yang kreatif, maka mereka akan menggunakan ilmu pengetahuan yang dimiliki. Tak hanya itu, pemanfaatan akan lingkungan sekitar juga menjadi modal yang bisa dimanfaatkan untuk pencarian dana yang kemudian akan disumbangkan kepada Yayasan Yatim Piatu.
Ilustrasi di atas begitu menggambarkan potensi SDA yang dimiliki Indonesia saat ini. Tak ayal, Indonesia adalah salah satu negara penghasil minyak dunia yang tergabung dalam organisasi negara pengekspor minyak (OPEC). Indonesia juga menempati peringkat pertama dunia dalam produk pertanian yaitu cengkeh dan pala serta peringkat kedua dalam memproduksi karet alam dan minyak sawit mentah. Lantas, apakah ketersediaan SDA sudah menjadikan Indonesia sebagai negara dengan tingkat kemiskinan terendah di dunia? Angka kemiskinan di Indonesia saat ini mencapai 17% dari total penduduk di Indonesia. Kemiskinan itu disebabkan oleh lemahnya akses masyarakat, terhadap sumber daya alam dan sumber ekonomi. Mestinya pemanfaatan SDA-lah yang menjadi landasan pemikiran pemimpin untuk menjadikan Indonesia sebagai negara yang tak dipandang sebelah mata.

Adanya kegiatan yang mengarah kepada pelatihan kepemimpinan kian dirindukan oleh bangsa kita. Bagaimana tidak, tingkat pengangguran di kalangan pemuda Indonesia sangat memprihatinkan. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2011, angka pengangguran kelompok usia produktif mencapai 60,5 persen dari jumlah pemuda yang ada. Ada beberapa persoalan yang dihadapi terhadap naiknya angka penggangguran, salah satunya keterbatasan sumber daya pembiayaan bagi kegiatan pemuda.

Salah satu program yang mesti direalisasikan untuk mengurangi penggangguran adalah program kepemimpinan. Melalui program kepemimpinanan, setidaknya pemuda tahu apa keputusan yang mesti diambilnya menyangkut masa depan. Di samping itu, pemimpin berkualitas tidak lahir dengan sendirinya, tetapi melalui suatu proses persiapan, pelatihan, bimbingan dan pemberian kesempatan serta pengkaderan yang dilaksanakan sejak dini secara terencana dan berkelanjutan. Atas dasar inilah, setiap lembaga atau yayasan yang ada di Indonesia mestinya melakukan proses pelatihan kepemimpinan serta penanaman nilai-nilai kepempimpinan, internalisasi nilai-nilai luhur, disiplin, sikap bertanggung jawab, jiwa kesatria, rasa nasionalisme, melatih kejujuran, berperilaku sopan dan santun akan lebih efektif bila dimulai pada pemuda. Atau haruskah kita masih berharap uluran lembaga asing yang siap siaga membantu bangsa kita?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s