Free Sex dan Generasi Muda

Posted: July 27, 2011 in article

Generasi muda selalu digadang-gadangkan sebagai harapan bangsa. Refleksi atas kekuatan pemuda tersirat dalam pidato presiden pertama RI, Soekarno: 100 orang hanya bermimpi, tetapi berikanlah aku 10 pemuda maka akan ku guncang dunia. Itupun dengan jelas tergambar seperti apa kekuatan dan partisipasi pemuda yang terukir dalam sejarah perjuangan bangsa.
Peran pemuda dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia dapat dilihat ketika berdirinya Boedi Oetomo tanggal 20 Mei 1908. Kemudian pada tahun 1928 lahirlah Sumpah Pemuda, sebagai sebuah peran generasi muda dalam pembentukan negara kesatuan Republik Indonesia. Gagasan generasi muda mengenai satu nusa, satu bangsa, dan satu bahasa yang tertuang dalam teks proklamasi kemerdekaan Indonesia pun muncul. Sehingga kedaulatan yang tercerai berai menyatu menjadi satu yaitu bangsa Indonesia.
Hingga saat ini, semangat perjuangan pemuda masih harus tetap di pertahankan sebagai sebuah jawaban atas pengorbanan para pendiri bangsa. Ketika perbedaan atas nama suku, agama dan ras ditonjolkan, komoditas politik kekuasaaan dibanggakan, maka dibutuhkan peran kekuatan bangsa dalam menindas ketidakbenaran. Kian diperhitungkan peran dan kekuatan pemuda sebagai tunas-tunas bangsa yang yang mangakui satu tanah air, bangsa dan bahasa.
Namun tak bisa dielakkan. Arus globalisasi kian memunculkan peran generasi muda dalam perilaku-perilaku negatif. Seks bebas sebagai salah satu contoh. Tercatat sekitar 30% dari penduduk Indonesia adalah pemuda. Sangat disayangkan dari 270.000 pekerja seksual di Indonesia, 90% nya adalah pemuda. Ironis memang.
Melihat peran pemuda sebagai aset penting masa depan bangsa, maka dibutuhkan kesadaran dalam mengingatkan kembali peran pemuda. Seiring perkembangan pergaulan bebas yang membawa generasi muda pada seks bebas kian mempertanyakan tanggung jawab bangsa. Dalam hal ini peran orang tua, sekolah (perguruan tinggi) dan masyarakat pun kian dituntut.
Peran orang tua dalam memberikan kebebasan dan pengawasan menjadi poin yang kian harus diperhatikan. Pemberian teladan dalam menekankan bimbingan serta pelaksanaan latihan kemoralan yang kuat. Hingga pada akhirnya tidak ada rasa penyesalan atas apa yang telah diperbuat. Mestinya tak ada lagi alasan kesibukan yang mengesampingkan pengawasan.
Begitu juga halnya lingkungan pendidikan. Realitas akan kehidupan mesti ditanamakan pada generasi muda. Tak sedikit free sex yang dilakukan dengan alasan suka sama suka. Namun, suka sama suka bukanlah menjamin realitas masa depan yang lebih baik. Bebas bergaul sesama lawan jenis harus dipertahankan menjadi hal yang tabu. Penekanan akan pencapaian masa depan harus menjadi sebuah motivasi yang konstruktif. Begitu juga halnya dengan pendidikan seks yang mestinya kian lumrah untuk diberikan.
Bukan berarti masyarakat lepas tangan ketika kewajiban orang tua dan sekolah sudah dijalankan. Peran reaktif masyarakat dibutuhkan dalam mencermati setiap kegiatan yang melibatkan generasi muda. Ketika masyarakat hanya mampu ‘memanfaatkan’ kesempatan. Tak menutup kemungkinan Indonesia akan kehilangan generasi muda yang mampu mengguncang dunia.
Titik balik untuk mencegah free sex tentunya setiap individu. Lagi-lagi nilai kemoralan menjadi poin penting sebagai benteng pertahanan. Tak ketinggalan motivasi yang berasal dari individu itu sendiri yang juga menjadi tameng dalam mencapai realitas kehidupan yang lebih baik. Tentunya akan menjadi sebuah kebanggan untuk menjadi generasi yang kian diperhitungkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s