Samin dan Sang Presiden

Posted: March 12, 2011 in children's stories
Tags: , , ,

Oleh Afdal Ade Hendrayana
“Lihat Bu, pak presiden sedang berpidato,” kata Samin ketika melihat pidato presiden di salah satu acara televisi. Dengan sigapnya, Samin berdiri dan meniru gaya pak presiden yang sedang berpidato. Tangannya persis mengikuti gerakan yang dilakukan presiden, ketika presiden mengepalkan tangannya, tangan Samin pun seperti itu.Begitu juga dengan gerak-gerik matanya. Samin terlihat bersemangat. Ibu Samin hanya tersenyum melihat tingkah laku Samin.
Keinginan untuk menjadi presiden sudah terlihat sejak Samin berumur delapan tahun. Sampai sekarang kalau ditanya, “Apa cita-cita Samin?” Samin akan selalu menjawab, “Samin ingin menjadi pak presiden.” Kalau Samin sedang makan, kemudian dia melihat presiden atau gambar presiden, baik itu di berita, maka dia akan berhenti makan. Dan dengan serius memperhatikan pak presiden yang sedang berpidato.
Begitu juga di sekolah, suatu hari, Samin sedang belajar mata pelajaran Bahasa Indonesia. Tepatnya belajar mengarang. Sebelum pelajarana dimulai, ibu guru bertanya, “Siapa yang ingin bercerita tentang cita-citanya?,” dengan sigapnya Samin tunjuk tangan. “Saya Bu.” Lalu Samin bercerita, kalau dia ingin menjadi presiden.
“Saya ingin bertemu dengan banyak orang, saya ingin Indonesia menjadi negara yang lebih maju,” ujar samin di hadapan puluhan teman-temannya. Lagi-lagi Samin meniru gaya pak presiden yang dilihatnya di televisi. Tepuk tangan teman-teman Samin terdengar, setelah lima menit Samin menceritakan cita-citanya di depan kelas.
Ibu guru Samin, Ibu Ida, juga mengakui kalau Samin adalah salah seorang siswa yang berani dan memiliki keinginan yang tinggi. “Ketika saya memberikan pertanyaan, Samin selalu tunjuk tangan dan menjawab pertanyaan yang saya berikan,” kata Ibu Ida. “Samin tidak takut salah. Yang penting dia menjawab pertanyaan,” tambah Ibu Ida.
Sekarang Samin telah berusia dua belas tahun. Samin sekolah di SMP1 Sungai Penuh, Kerinci. Keinginan Samin untuk menjadi presiden semakin terlihat. Meskipun masih kelas VII, Samin telah menjadi anggota Organisasi Siswa Intra Sekolah (Osis) di sekolahnya. Samin termasuk anak yang mudah bergaul. Tidak hanya dengan teman-teman sekelas, tetapi juga dengan siswa kelas IX.
***
Siang itu Samin terlihat sedih. Biasanya Samin pulang dari sekolah bersama temannya. Tetapi saat itu Samin hanya pulang sendiri.
“Mengapa ibu guru tidak memilih saya untuk ikut pidato?,” Samin hanya berbicara sendiri. Wajahnya terlihat semakin kesal. Seakan-akan Samin tidak bisa menerima keputusan yang telah diberikan oleh gurunya. Sesekali Samin terlihat menendang batu-batu kerikil yang berserakan di jalanan.
Setibanya di rumah, Samin menceritakan kepada Ibunya. “Bu, Samin gagal untuk menjadi perwakilan sekolah dalam lomba pidato,” adu Samin kepada ibunya. “Tidak apa-apa, mungkin belum kesempatan Samin untuk ikut,” jawab ibunya. “Tahun depan kan masih ada lombanya,” jawab ibunya. “Tapi Samin kan ingin bertemu dan salam dengan pak presiden,” balasnya lagi. “Sabar, suatu saat kamu pasti akan bertemu dengan pak presiden,” hibur ibunya.
Meski ibunya telah berusaha untuk menghiburnya. Samin masih terlihat sedih. Kesedihan Samin hilang ketika dia melihat pidato presiden tentang Hari Lingkungan Hidup Sedunia, 5 Juni, di televisi. Seakan-akan semangatnya kembali bangkit.
“Min, sambal sudah masak, makanlah,” panggil ibunya dari dapur. Saking asyiknya menonton, Samin tidak menghiraukan panggilan ibunya. Seakan-akan ada rasa senang dan bahagia yang dirasakan oleh Samin ketika melihat sosok sang presiden. Setelah pidato presiden selesai, Samin baru makan siang.
Keinginan untuk bertemu sang presiden juga terlihat dengan suasana di dalam kamarnya. Hampir tiga belas poster sang presiden dengan ukuran jumbo menghiasi setiap sisi kamar Samin. Terlihat foto presiden yang sedang berpidato, presiden yang sedang melambaikan tangan, presiden yang tersenyum, hingga tulisan yang bertuliskan “Calon Presiden Masa Depan”.
***
Hari Minggu dimanfaatkan Samin untuk beristirahat. Biasanya Samin mendengar radio, dan menonton televisi. Pagi itu, sambil berbaring, Samin mendengar radio. Lalu, Samin mendengar ada sebuah iklan tentang peringatan hari anak nasional. “Sehubungan dengan peringatan hari anak nasional, tanggal 23 Juli, maka akan diadakan perlombaan pidato dengan tema “Aku adalah Pemimpin Dunia Masa Depan”. Pesertanya adalah anak-anak dengan rentang usia mulai dari 10-15 tahun. Bagi yang menjadi juara akan diberikan hadiah secara langsung oleh pak presiden”. Mendengar iklan tersebut, Samin sangat senang. “Yeah, ini kesempatan Samin untuk bertemu dengan sang presiden,” ujarnya gembira. Samin langsung melompat dari tempat tidurnya.
“Bu, ada lomba pidato. Bagi yang juara akan bertemu dengan presiden. Samin mau ikut Bu.” Melihat kegembiraan Samin, ibunya pun turut gembira. “Samin harus latihan ya. Biar jadi juara,” balas ibunya.
Setelah pulang sekolah, Samin selalu latihan pidato. Samin meminta kepada salah seorang gurunya, Bu Leni, guru mata pelajaran Bahasa Indonesia untuk membuat konsep pidatonya. Melihat semangat Samin, ibu Leni pun ikut bahagia. “Samin harus rajin-rajin latihan ya,” ujar Bu Leni memberikan semangat kepada Samin.
Setiap pulang sekolah, Samin selalu latihan pidato. Semangatnya terlihat jelas. Awalnya Samin masih terbata-bata dalam berpidato. Lama-kelamaan Samin tidak lagi melihat teks. Hanya dalam tiga hari, Samin telah lancar dalam berpidato. Juga tidak ketinggalan gerak-gerik tangannya dan ekspresinya pun turut dalam penyampaian pidato. Tidak hanya ibunya, guru-guru Samin pun sangat senang melihat semangat Samin untuk ikut lomba pidato.
Waktu kian berjalan, hanya tinggal tiga hari lagi bagi Samin untuk mempersiapkan penampilannya dalam lomba pidato. Kian hari semangat Samin kian meningkat. Kemampuannya berpidato pun kian membaik.
“Ini adalah kesempatan Samin untuk menunjukkan bahwa Samin bisa menjadi juara,” ungkap Samin dalam hati.
Hari yang ditunggu-tunggu Samin akhirnya tiba. Dengan kostum putih-hitam, Samin berpidato di hadapan ribuan penonton yang menyaksikan lomba tersebut. Ketika Samin mengepalkan tangannya dan berkata, “dengan tekad dan semangat yang tinggi, aku yakin aku bisa menjadi pemimpin masa depan,” terlihat Ibunya meneteska air mata. Terharu akan semangat dan tekad yang dimiliki anaknya.
Tepuk tangan terdengar membahana dari penonton ketika Samin turun dari podium. “Samin, kamu hebat,” puji guru-gurunya. Samin hanya tersenyum indah.
Akhirnya, tekad dan keinginan Samin untuk bertemu dengan sang presiden pun tercapai. Dengan bangga, Samin mengangkat piala dengan kedua tangannya. Dan berkata “akulah pemimpin masa depan……..”
Afdal Ade Hendrayana
Penulis Lepas,
Tinggal di Padang
Profil Singkat

Nama : Afdal Ade Hendrayana
Pekerjaan : Mahasiswa Uiversitas Negeri Padang
Alamat : Jln. Gelatik IV No. 57 Air Tawar Barat, Padang
Kode Pos : 25131
Alamat email : Afdal.warrior07@gmail.com
Nomor Hp : 0852 66 195811

Comments
  1. Rie Rie says:

    menyimak cerpen anak ini…cara pendeskripsiannya enak banget…
    lam kenal ya….

  2. Mas Didik says:

    Selamat ya buat Si Samin.. calon Presiden RI masa depan🙂

  3. Rie Rie says:

    met lomba ya..moga sukses…

  4. Abi Sabila says:

    Inspiratif! Semoga sukses kontesnya ya.

  5. MT says:

    membaca penulis lepas dari Padang…. menarik!

  6. avto says:

    This is very goog info for me. Author – respect!

  7. negerianak says:

    Calon pemimpin negeri yang selalu mau maju. bagus sekali

  8. duniakuro says:

    anak kecil yang bermimpi besar…. jarang dijumpai pada anak2 jaman sekarang….
    ayo samin, jadilah presiden yang baik…… Vote 4 Samin😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s