Berawal dari Sebuah Rasa

Posted: September 2, 2010 in teenlite

Terkadang ada orang yang suka rasa coklat,
Ada juga yang suka rasa Strawberi, melon, pisang…
Hingga rasa cinta,

Berbicara tentang rasa terkadang membuatku teringat akan masa-masa di kala itu. Sebuah masa di mana membuat diriku lupa atas segala sesuatu. Terkadang makan tak ada rasa kenyang, minum tak ada rasa dahaga, tidur tak ada rasa pulas hingga shalat pun tak ada rasa khusyu’. Ya, memang itulah sebuah rasa yang memang timbul dari lubuk hati yang terdalam.
Terkadang muncul beberapa pertanyaan pada benakku,
“Apa itu rasa?”
“Mengapa begitu besarnya kekuatan sebuah rasa.”
“Apa sebenarnya sesuatu yang ada di balik sebuah rasa itu.”
Berawal dari sebuah lirikan pertama. Dari mata hingga menjalar ke hati. Terkadang hadir secara tiba-tiba. Tanpa kita sadari.

Aku tahu bahwa rasa itu telah menjalar ke hatiku. Tapi aku tidak berani untuk mengungkapkannya. Seakan-akan ada sebuah dorongan yang membuatku takut untuk mengatakan semua itu. Tapi aku percaya bahwa dia juga merasakan hal yang sama sepertiku. Itu terlihat ketika aku menatapnya. Seakan-akan ada sebuah makna dibalik pancaran cahaya matanya. Jauh berbeda dari tatapan yang biasa. Begitu juga halnya dengan senyumannya. Terkadang senyumannya membuat jantungku berdebar dag…dig…dug… Bibirnya yang merekah bak delima yang sedang menyambut datangnya mentari pagi.
Siang itu, di sebuah ruangan kelas. Aku hanya terdiam. Menyendiri sambil mencuri waktu untuk menatap wajahnya. Aku tak menghiraukan canda tawa dan senda gurau kawan-kawanku. Terserah apa yang mau mereka perbuat. Aku tak peduli. Begitu juga dengannya. Dia hanya membaca sebuah novel. Kelihatannya dia membaca sebuah novel yang berjudul “Sordam” karya Suhunan Situmorang – sebuah novel yang menunjukkan bahwa perasaan mencintai dan dicintai adalah milik setiap manusia, yang tidak mengenal batas budaya dan strata sosial ekonomi.
Terkadang dia menoleh ke belakang untuk melirikku. Aku hanya bisa senyum dan senyum. Demikianlah seterusnya. Aku tidak berani mendekatinya, begitu juga sebaliknya. Seolah-olah ada sebuah pembatas di antara kami.
“Pergilah dekati dia…”
“Aku tidak mampu untuk mendekatinya.”
“Mengapa?”
“Entahlah.”
Ya, itulah kata-kata yang selalu menghantuiku.
Sabtu malam, dentuman waktu bergerak mendekati pukul 08.00 malam. Entah kenapa malam ini rasanya jauh berbeda dari malam-malam sebelumnya. Aku merasakan rasa rindu kepadanya. Hingga aku putuskan untuk meneleponnya.
“Halo….?”
“Halo….., lagi ngapain Na?”
“Lagi nyetrika. Emangnya ada pa Yan? Tumben nelpon.” (Aku terdiam sejenak).
“Halo….Halo…”
“Ya Rina (Jawabku tersentak). Na, kenapa malam ini aku kangen ama kamu?”
“Ah…. yang benar Yan?” (Dengan nada yang agak terkejut)
“Benar Na, malam ini rasanya beda dari malam-malam sebelumnya. Aku ingin ketemu ma kamu. Seandainya kamu berada di atas bintang sana maka aku akan terbang untuk menjemputmu. Ga’ apa-apa kan kalau aku terbang tu’ jemput kamu?”
“Ga apa pa sich, tapi awas kepentok ama bintangnya ya?”
“Ga apa pa kok kalau aku kepentok ama bintangnya. Yang penting kan aku bisa…………………………………(sambungan terputus).
Meskipun ditengah-tengah pembicaraanku dengannya terputus di karenakan pulsaku abis, tapi rasa kangenku padanya pun sedikit mereda. Malam itu menambah keyakinanku bahwa dia juga suka denganku.

***
25 januari,
Ya, itulah hari ulang tahunnya. Tepat pada hari ini. Di seperempat malam tadi aku sengaja bangun untuk mengucapkan ucapan selamat ulang tahun padanya. Meskipun hanya melalui via SMS.
“Adalah sebuah ketenangan qalbu jika di hari yang berbahagia ini kamu berbenah diri, atur strategi untuk mencapai tujuan dan impian yang kamu cita-citakan. Hari ini sudah berkurang tentunya umur yang kamu miliki. Semoga dalam sisa-sisa umur ini kamu diberi rezeki, kebahagiaan, dan kesempatan untuk membahagiakan kedua orang tuamu. Selamat ulang tahun. Sukses selalu.”
Mungkin terdengar kurang romantis, tetapi itulah kalimat-kalimat yang mewakili isi hatiku kepadanya.

Esok harinya, teman-teman satu lokal pun mengerjainya. Mereka menyuruhnya ke depan lokal. Seolah-olah orang yang sedang berulang tahun membuat sebuah kesalahan. Aku pun tidak tahan melihatnya. Dia hampir menangis. Tapi, apalah dayaku tentang semua itu. Setelah dua puluh menit berlalu. Barulah teman-teman semuanya mengucapkan ucapan selamat ulang tahun kepadanya. Namun di balik ucapan selamat itu, ada sesuatu yang membuat adrenalinku berdetak kian cepat. Tiba-tiba kawan-kawanku memanggil seseorang – yang ternyata dia adalah teman akrabku, untuk memberikan kado spesial kepadanya. Dan ternyata pada hari itu mereka berdua telah menjalin sebuah hubungan, yang mungkin juga berawal dari sebuah rasa. Aku terhenyak seketika. Kalaulah aku bak sekuntum bunga, tentu akan layu untuk selama-lamanya. Lalu Aku menatap Rina tajam-tajam. Aku melihat ada sebuah pancaran maaf dari sinar matanya tentang itu semua.
“Relakanlah dia pergi.”
“Aku tidak rela.”
“Cinta bukan berarti memiliki.”
“Aku tahu itu.”
“Jadi sekarang kamu mau apa lagi?”
“Aku hanya bisa mengenang senyuman manisnya, lirikan matanya, komat-kamit bibirnya yang merekah bak delima ketika membaca sebuah novel.”
“Hanya itu?”
“Ya, hanya itu. Tapi itu semua juga salahku. Mengapa tidak dari dulu aku mengatakan rasa hatiku ini kepadanya.”
“Janganlah kau sesali dirimu sendiri. Nasi telah menjadi bubur.”
“Tidak. Meskipun nasi telah menjadi bubur, apabila bubur itu ditambah dengan gula, kecap, santan kelapa, tentu bubur itu akan enak jadinya.”
“Jadi apa rencana kamu selanjutnya?, Kamu akan merebut dia dari teman akrabmu itu?”
“Tidak….. Aku tidak akan seperti itu. Aku akan merelakan cinta mereka bersemi. Mungkin itulah yang terbaik baginya.”
“Jadi sekarang kamu mau apa lagi?”
“Aku akan berdo’a kepada tuhan; Ya Tuhan, kalau dia memang bukan jodohku, maka jangan beri dia jodoh selain aku.”
“Itu artinya kamu tidak rela dengannya.”
“Ya, bisa jadi begitu.”

***
Hari-hari berjalan tanpa arah dan kemudi. Sekarang tidak ada lagi tatapan yang bermakna dibalik pancaran cahaya matanya. Begitu juga halnya dengan senyumannya. Tidak lagi membuat jantungku berdebar dag…dig…dug. Bibirnya yang dulu merekah bak delima sekarang bagiku tidak seperti itu lagi. Dulu, dia orang yang sangat spesial bagiku. Tidak seperti teman-teman cewek lainnya. Tetapi sekarang dia sama halnya dengan teman cewek-cewekku yang lain. Rasa itu sekarang sudah mulai memudar. Walapun masih ada yang tersisa sedikit lagi di ruang hatiku.
Ketika bertemu dengannya, aku masih menyapanya. Ya, hanya sapaan seperti halnya sapaan kepada teman-teman biasa.
“Na…..”
“Ya, Yan.”
“Udah buat tugas.”
“Udah… Kamu mau liat?”
“Ga’, ma kasih.”
Sempat suatu ketika dia berkata kepadaku.
“Yan, rasanya kamu jauh berubah sekarang ini.”
“Ah…. Itu hanya perasaan kamu aja kok.”
“Ga’,, Dulu kamu menyapaku dengan iringan senyum. Tapi sekarang tampaknya ada sesuatu yang membuat kamu marah kepadaku. Ya kan …?”
“Perasaan kamu aja kale….”
“……………………….”
Kini, aku hanya bisa menatap kemesraan mereka berdua dari kejauhan. Jalan-jalan bareng, pulang bareng, makan di kantin bareng, pokoknya ke mana-mana mereka bareng. Seakan-akan dunia ini milik mereka berdua. Sedangkan yang lainnya numpang nge-kos.

Namun, kini aku telah melupakan semua itu.
Dan sekarang ruang hatiku telah terbuka untuk siapa saja. Tidak hanya untuk dia…dia….dan dia. Dan aku yakin rasa itu pun akan muncul nantinya. Tapi aku tidak tau entah kepada siap rasa itu akan berlabuh. Tanpa kita duga dan dia akan datang secara tiba-tiba. Ya… itulah kekuatan di balik sebuah rasa. Apakah itu anda suka rasa coklat, strawberi, keju, melon, ataupun pisang. Semua itu tergantung kepada diri anda sendiri. (Dimuat di Koran Singgalang)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s